Setelah makan, seperti biasa aku dan Kak Tina
menuju kamar kami. Saat mataku melihat lemari Kak Tina yang terbuka (biasanya
selalu dikunci), aku tergerak untuk mencari novel yang
disembunyikannya. Bokep Aku memegang celana
pendekku di daerah depan. Dia menunjuk tepi tempat tidur, di antara pahanya yang terkangkang. Saat
ini aku merasakan puber yang sebenarnya.Saat tangan Kak Tina mencoba
meraih ritsluiting celanaku, terdengar suara motor bebek memasuki
halaman rumah. Suatu rasa yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Hati-hati sekali aku tiarap di atasnya. Tampak raut wajah Kak Tina berubah. Karena dia tidak
pernah menyinggung hal itu, aku biarkan saja. “Mimpi apa kamu, Sapto?”. Hanya itu saja. Hanya itu saja. Kak Tina mengambil novelnya, hendak menyimpannya di
dalam lemari. Jadi siapa?




















