Bodoh, bodoh, bodoh.Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan. Tetapi eh.., diam-diam ia mencuri pandang ke arah juniorku. Bokepvcs Aku tidak berani menatap wajahnya. Dadaku tiba-tiba berdegup-degup.“Bang, Bang kiri Bang..!”Semua penumpang menoleh ke arahku. Aku terpejam menahan air mani yang sudah di ujung. Atau apalah? Suara pletak-pletok mendekat.“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Ayo..!“Mbak.., pahaku masih sakit nih..!” kataku memelas, ya sebagai alasan juga mengapa aku masih bertahan duduk di tepi dipan.Ia berjongkok mengambil sapu tangan. Ada cairan putih di celana dalamku.Di kantor, aku masih terbayang-bayang wanita yang di lehernya ada keringat. Ia malah melengos. Ia berlutut mengelap paha bagian belakang. Baru saja aku memasang ikat pinggang, Hawin menghampiriku sambil berkata, “Telepon aku ya..!”Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya.




















