Merasa bosan, kuambil rokokku yg selalu tersedia dalam saku jaket dan kusulut sebatang rokok. “Memangnya kamu sudah kenal, Zainal?”, tanyanya. Bokep Mungkin karena malu Indah segera melepaskan cubitannya. Sebuah cubitan langsung menancap di tangan kiriku. Selama beberapa menit kami berdua saling memberi dan menerima rangsangan dengan aksi 69 seperti yg pernah kuingat dalam beberapa cerita temanku sebelumnya. “Mbak, boleh minta rotinya!”, kataku dengan halus. “Aku duarius Mbak, bukan serius lagi”, kataku ngotot yg hanya dibalas dengan senyumannya. Raguku benar-benar hilang dan tangannya semakin bebas bergerak. Kudorong sisi kiri tubuh Indah sehingga membelakangiku dan sama-sama menghadap kesamping kanan. “Aduh Mbak, sakit!”, keluhku agak keras sehingga agak terdengar dan menarik perhatian orang-orang disekitar kami.




















